Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Kanal Pengetahuan Fakultas Peternakan
  • BERANDA
  • E-LEARNING
    • MENARA ILMU
    • KULIAH TERBUKA
    • KULIAH TAMU
    • COMMUNITY OF PRACTICE
    • COMMUNITY OF SERVICE
    • PROFIL DOSEN
  • RISET & PUBLIKASI
    • Knowledge Translation
    • PERTEMUAN ILMIAH
    • PENELITIAN
    • PUBLIKASI
  • TENTANG KANAL
  • Three Minute Thesis
  • Beranda
  • KNOWLEDGE TRANSLATION
  • page. 2
Arsip:

KNOWLEDGE TRANSLATION

Tingkatkan Reproduksi, Fapet UGM Kembangkan Embrio Berkualitas pada Hewan Ternak Melalui Metode IVF

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 19 November 2024

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM melalui Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak melakukan terobosan pemanfaatan Fertilisasi In Vitro (IVF) ternak dari beberapa Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Yogyakarta. Kepala Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak Fapet UGM, Prof. Ir. Diah Tri Widayati, M.P., Ph.D.,IPM., mengatakan teknologi reproduksi fertilisasi in vitro merupakan inovasi generasi ketiga dalam teknologi reproduksi yang menawarkan solusi strategis untuk mempercepat peningkatan populasi ternak, perbaikan genetik ternak dan mendukung ketahanan pangan nasional.

“Teknologi reproduksi fertilisasi in vitro (IVF) pada ternak kini semakin diandalkan untuk meningkatkan efisiensi produksi embrio berkualitas tinggi,”kata Diah pada acara Fapet Menyapa, Selasa (19/11). Fapet Menyapa merupakan forum  unggulan untuk menyajikan berbagai capaian, hasil riset dan Tridarma dari Fapet UGM melalui media massa.

Tim Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi lain yang hadir dalam acara tersebut, yaitu Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng, Ir. Riyan Nugroho Aji, S.Pt., M.Sc., IPP. dan Dr. Kurniawan Dwi Prihantoko, S.Pt.

Menurut Diah teknologi IVF memungkinkan pemanfaatan oosit (sel telur) dari ovarium yang diperoleh di rumah potong hewan. Biasanya, ovarium dianggap sebagai limbah atau hasil samping, tetapi melalui teknologi IVF, oosit ini dapat digunakan untuk memproduksi embrio.

Fapet UGM, kata Diah, merupakan salah satu pelopor dalam pengembangan teknologi IVF di Indonesia. Melalui kerja sama dengan lembaga penelitian pemerintah seperti Balai Embrio Ternak Cipelang dan pelatihan bagi peneliti, Fapet UGM telah  mengoptimalkan teknik IVF, mulai dengan pengumpulan oosit, pematangan oosit in vitro (IVM), fertilisasi in vitro serta peningkatan media kultur embrio.

“Riset kami berfokus pada spesies ternak lokal seperti sapi potong, sapi perah, dan kambing serta domba, dengan penggunaan oosit dari ovarium rumah potong hewan untuk meningkatkan efisiensi produksi,”kata Diah.

Peneliti lain dari Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak Fapet UGM, Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng., menambahkan selain dapat memanfaatkan ovarium dari rumah potong hewan (RPH), teknologi IVF juga mampu untuk meningkatkan produksi dan kualitas ternak, terutama jika dikombinasikan dengan penggunaan sperma dari ternak unggul.

Diah menjelaskan kembali dalam jangka panjang IVF akan berdampak pada ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor ternak. Teknologi ini juga telah banyak digunakan di Amerika Utara, Amerika Selatan dan Eropa, serta menjadi tren global dengan penggunaan embrio produksi in vitro (IVP) yang kini melampaui embrio yang diproduksi secara alami (in vivo) melalui multiple ovulation and embryo transfer (moet).

“Dengan dukungan kebijakan yang tepat, IVF dapat mempercepat perbaikan genetik ternak lokal, memperkuat ketahanan pangan nasional dengan menyediakan pasokan protein hewani yang stabil dan berkualitas tinggi, serta membuka peluang ekspor embrio unggul. Adopsi luas teknologi ini berpotensi menjadikannya salah satu pilar utama dalam memperkuat sektor peternakan dan pangan Indonesia di kancah global,”urai Diah.

 

Penulis: Satria

Foto: Tim media- Tim laboratorium

Dorong Publikasi Riset, Fakultas Peternakan UGM Launching Fapet Menyapa

KNOWLEDGE TRANSLATION Friday, 23 August 2024

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM terus mendorong agar hasil-hasil riset dan tridarma lainnya terpublikasi secara masif kepada publik. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu dengan menggelar forum bersama wartawan dengan tajuk Fapet Menyapa. Acara Fapet Menyapa dilaunching pada Jumat (23/8) di Hall ASLC Fapet UGM.

Dekan Fapet UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengatakan forum ini merupakan acara unggulan untuk menyajikan berbagai capaian, hasil riset dan tridarma dari Fapet UGM melalui media massa. Secara bergiliran nantinya sebanyak 14 laboratorium di Fapet akan menyampaikan produk-produk unggulannya.

“Hasil-hasil tridarma dari Fapet UGM sangat banyak. Salah satu cara untuk menginformasikannya kepada khalayak luas tentu dengan menggandeng teman-teman wartawan,”kata Budi.

Fapet Menyapa akan rutin diadakan sebulan sekali. Kegiatan diskusi rutin dengan menggandeng media massa di tingkat fakultas sejauh ini baru ada di Fapet UGM. Budi berharap forum ini sekaligus sebagai wahana untuk mengurangi dampak berita hoaks yang masih terjadi di masyarakat.

Untuk edisi perdana Fapet Menyapa mengangkat tema Rahasia Penggemukan Ternak dengan Teknologi Pakan bersama tim Laboratorium Teknologi Makanan Ternak, yaitu Moh Sofi’ul Anam, S.Pt., M.Sc, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA., IPU., ASEAN Eng. dan Ir. Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M. Anim.St., Ph.D., ASEAN Eng.

“Terima kasih atas kehadiran dan partisipasi teman-teman wartawan. Harapannya media relations semakin kuat dan berbagai hasil riset dari Fapet bisa terdistribusikan kepada masyarakat,”katanya.

Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ribut Raharjo, menyambut baik Fapet Menyapa. Ribut yakin Fapet UGM memiliki banyak hasil riset yang bermanfaat bagi masyarakat. “Saya rasa ini terobosan dari Fapet UGM dengan melibatkan wartawan. Kami siap untuk berbagi informasi kepada masyarakat atas capaian dan riset yang dihasilkan,”kata Ribut.

Fapet Menyapa edisi perdana melibatkan sekitar 20 media massa baik cetak maupun online, seperti Tribun, Harian Jogja, Radar Jogja, Kompas, Suara Merdeka, Republika, RRI, Detik.com, TVRI, LKBN Antara, Tempo, Beritasatu.com dan Metro TV.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyon

Mengenal Ayam Leher Gundul (Legund)

KNOWLEDGE TRANSLATION Thursday, 13 December 2018

Ayam leher gundul (legund) merupakan salah satu variasi genetik ayam kampung/lokal yang ada di Indonesia. Ayam ini sering disebut oleh pedagang dengan nama ayam Bali. Keunikan ayam ini adalah tidak adanya bulu dari kepala hingga bagian atas tembolok, sehingga leher tampak polos alias gundul, sehingga dinamakan ayam leher gundul.

Dalam bahasa Inggris, ayam leher gundul dikenal sebagai naked neck chicken / fowl. Di luar negeri, terdapat pula beberapa jenis ayam leher gundul seperti bare neck transylvanian chicken, nigerian naked neck chicken. Banyak penelitian telah dilakukan terhadap ayam leher gundul /legund ini baik dalam maupun luar negeri.

Pakar ayam leher gundul dari Indonesia adalah Prof. Dr. Jafendi Hasoloan Purba Sidadolog dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.

Genetika Ayam Leher Gundul

Sifat leher gundul merupakan dominan tidak lengkap. Dalam kondisi heterozigot (Na/na+), bulu-bulu halus pada leher masih ditemukan. Namun pada ayam dengan genotipe homozigot (Na/Na), bulu-bulu di leher tidak ditemukan sama sekali.

Berdasarkan keberadaan bulu halus pada lehernya, ayam leher gundul yang diamati diduga memiliki genotipe homozigot, karena seluruh ayam tidak memiliki bulu-bulu halus di lehernya.

Perbedaan Ayam Leher Gundul Homozigot dan heterozigot

Ayam leher gundul dengan genotipe heterozigot kehilangan bulu sebanyak 30%, sedangkan yang bergenotipe homozigot kehilangan bulu sekitar 40% dari total bulu yang ada pada tubuh ayam normal.

Gen Na mempengaruhi keberadaan pori-pori untuk pertumbuhan bulu. Ayam leher gundul tidak memiliki folikel bulu dari kepala dan leher, kecuali sekitar jengger, anterior tulang belakang, dan dua bagian kecil di sisi atas crop (Fathi et al., 2013).

Merat (1986) menggolongkan gen leher gundul (Na) sebagai gen Pliotropy, yaitu gen yang berpengaruh terhadap dua sifat atau lebih, atau karena memiliki keterkaitan dengan gen-gen lain. Digolongkan demikian karena gen tersebut memberikan pengaruh baik terhadap transfer atau pembuangan panas ke luar tubuh (lingkungan) dan memperbaiki efisiensi pakan.

baca juga ayam kampung super.

 

ayam leher gundul dewasaKemampuan Adaptasi pada Suhu Lingkungan Panas

Ayam leher gundul memiliki keunggulan adaptasi pada suhu tinggi dibandingkan dengan ayam kampung normal. Hal ini disebabkan keberadaan bulu yang lebih sedikit pada tubuh (Caratchea et al., 2010).

Keberadaan bulu yang lebih sedikit dibandingkan ayam berbulu normal akan meningkatkan kemampuan termoregulasi (Cahaner et al., 1993). Gen Na memiliki kekurangan pada suhu lingkungan kurang dari 20 C tetapi lebih unggul pada lingkungan yang memiliki suhu diatas 30 C terhadap berat badan, efisiensi pakan, produksi telur dan karkas (Islam dan Nishibori, 2009).

Penurunan cakupan bulu di ayam leher gundul memungkinkan hilangnya panas secara radiasi dari permukaan kulit ayam yang lebih tinggi dibandingkan ayam berbulu normal. Peningkatan kemampuan pertukaran panas secara radiasi akan meningkatkan kemampuan termoregulasi pada suhu lingkungan tinggi (Yakubu et al., 2008).

Bulu berperan sebagai heat insulator yang turut berperan dalam pengaturan keseimbangan heat production dan heat loss. Keadaan tidak tumbuhnya bulu di bagian tertentu ayam legund dapat meningkatkan panas yang keluar (heat loss). Hal ini akan mengurangi energi yang dikeluarkan untuk mengimbangi suhu lingkungan yang panas, misalnya energi untuk peningkatan frekuensi bernafas (panting) (Wardono, 2014).

Kesimpulan Singkat

Ayam Legund merupakan salah satu ayam lokal Indonesia yang mempunyai ciri leher tidak ditumbuhi bulu. Gen Na merupakan gen dominan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bulu pada bagian leher. Ayam leher gundul memiliki keunggulan adaptasi pada suhu tinggi dibandingkan dengan ayam kampung normal.

Hal ini disebabkan keberadaan bulu yang lebih sedikit pada tubuh. Hal ini menyebabkan gen tersebut banyak manfaatnya bagi ayam petelur maupun ayam broiler dalam kaitannya dengan pembentukan strain ayam yang cocok untuk kondisi daerah beriklim tropis yang panas.

Referensi:

Cahaner, A. N. Deeb and M. Gutman. 1993. Effect of the plumage reducing neked neck (Na) gene on the performance of fast growing broiler at normal and high ambient temperatures. Poult. Sci. 72(5): 767-775

Caratchea, J., E. G. Vazques, R. G. S. Razo. 2010. Egg production in naked neck creole (Nana) hens and in those with normal plumage  (nana) in the region Mexican plateau. C.J. Agric. Sci., 44:281-284.

Fathi, M. M., A. Galal, S. El-Safty And M. Mahrous. 2013. Naked neck and frizzle genes for improving chickens raised under high ambient temperature: i. Growth performance and egg production. World’s Poultry Sci. J. 69: 813 – 832.

Islam, M. A. dan M. Nishibori. 2009. Indigenous naked neck chicken: a valuable genetic resource for Bangladesh. World’s Poultry Sci. J. 65: 125 – 138.

Merat, P., 1986. Potential usefulness of the Na (naked neck) gene in poultry production, World’s Poultry Sci. J. 42, 124–142

Wardono, H. P. 2014. Analisis Pewarisan Genetik Sifat Kualitatif dan Kuantitatif pada Ayam Legund (Naked Neck Fowl). Tesis Programsarjana Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Yakubu, A., D. M. Ogah dan R. E.Barde. 2008. Productivity and egg quality characteristics of free range naked neck and normal feathered Nigerian indigenous chicken. Int. J. Poultry. Sci., 7: 579 – 585.

12
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada

Jl. Fauna No. 3 Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Telp: (0274) 513363 | Fax: (0274) 521578 |

Email: fapet@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY