Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Kanal Pengetahuan Fakultas Peternakan
  • BERANDA
  • E-LEARNING
    • MENARA ILMU
    • KULIAH TERBUKA
    • KULIAH TAMU
    • COMMUNITY OF PRACTICE
    • COMMUNITY OF SERVICE
    • PROFIL DOSEN
  • RISET & PUBLIKASI
    • Knowledge Translation
    • PERTEMUAN ILMIAH
    • PENELITIAN
    • PUBLIKASI
  • TENTANG KANAL
  • Three Minute Thesis
  • Beranda
  • Pos oleh
Pos oleh :

septiana.saraswati

Gama Abilawa Portable Restraining Box Tingkatkan Efisiensi Pemotongan dan Kesejahteraan Ternak

KNOWLEDGE TRANSLATION Thursday, 21 May 2026

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) terus mendorong penerapan teknologi yang mendukung kesejahteraan hewan sekaligus meningkatkan efisiensi pemotongan ternak kurban. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Gama Abilawa Portable Restraining Box yang digagas oleh Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.

Prof. Panjono menjelaskan bahwa praktik pemotongan sapi kurban di masyarakat selama ini sebagian besar belum dilakukan di Tempat Pemotongan Hewan (TPH). Selain menggunakan peralatan yang terbatas, proses penanganan ternak juga sering dilakukan secara kurang manusiawi sehingga berdampak pada kesejahteraan hewan maupun kualitas daging yang dihasilkan.

“Selama ini banyak pemotongan sapi kurban dilakukan di luar TPH dengan fasilitas terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan ternak mengalami tekanan fisik maupun psikis, meningkatkan risiko kecelakaan bagi petugas penyembelihan, serta menurunkan kualitas daging,” ujar Prof. Panjono dalam kegiatan Fapet Menyapa, Senin (18/5).

Hadir dalam kesempatan tersebut tim dari Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan, yakni Prof. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. selaku Kepala Laboratorium, Dr. (Cand) Muhammad Danang Yulianto, S.Pt., M.Si., Ir. Hamdani Maulana, S.Pt., M.Sc., IPP., dan Ir. Tristianto Nugroho, S.Pt., M.Sc., IPP.

Prof. Panjono mengungkapkan, dalam praktik di lapangan sapi kurban sering kali sulit ditangani sejak proses penambatan, penggiringan menuju lokasi penyembelihan, hingga perebahan dan pengikatan sebelum disembelih. Kondisi tersebut tidak jarang memicu ternak mengamuk, mengalami luka, bahkan menimbulkan kecelakaan pada petugas penyembelihan.

Menurutnya, inovasi portable restraining box hadir untuk mempermudah penanganan ternak secara lebih aman dan manusiawi. Dengan alat tersebut, sapi dapat diarahkan masuk ke dalam box dengan lebih tenang dan siap disembelih tanpa harus mendapat perlakuan yang tidak manusiawi.

“Kasus yang sering dijumpai di lapangan adalah kecelakaan petugas penyembelih maupun ternak yang mengalami luka akibat proses perebahan yang tidak tepat. Dengan restraining box ini, sapi lebih mudah ditangani dan proses penyembelihan bisa dilakukan dengan lebih aman,” jelasnya.

Ia menambahkan, alat tersebut dirancang agar kompatibel dan mudah digunakan di berbagai lokasi yang tidak memiliki fasilitas TPH. Desainnya portabel sehingga mudah dipindahkan dan cocok digunakan panitia kurban di berbagai daerah.

Pengembangan alat ini telah dilakukan sejak 2019 dan terus disempurnakan setiap tahun berdasarkan evaluasi lapangan. Dari hasil kajian yang dilakukan, penggunaan portable restraining box mampu mempercepat proses pemotongan hingga 52,5 persen serta menurunkan secara signifikan jumlah personel yang terlibat dalam proses penyembelihan. Jika sebelumnya proses perebahan dan penanganan sapi memerlukan banyak orang, kini cukup ditangani sekitar lima personel dengan risiko yang lebih rendah.

Selain mendukung efisiensi kerja, alat ini juga dinilai mampu meminimalkan stres dan cedera pada ternak sehingga kualitas daging yang dihasilkan menjadi lebih baik.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa portable restraining box mampu meningkatkan efisiensi proses pemotongan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ternak. Tingkat stres sapi dapat ditekan sehingga kualitas daging menjadi lebih terjamin,” tambahnya.

Protokol Pengukuran Kesejahteraan Hewan

Tidak hanya mengembangkan teknologi restraining box, Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan juga mengembangkan protokol pengukuran kesejahteraan hewan yang disesuaikan dengan kondisi tropis di Indonesia.

Prof. Tri Satya Mastuti Widi atau yang akrab disapa Prof. Vitri menjelaskan bahwa pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan sudut pandang hewan, bukan semata dari sisi manusia atau peternak.

“Pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan apa yang dialami hewan. Karena itu kami mengembangkan berbagai protokol pengukuran yang sesuai dengan sistem produksi di daerah tropis, baik intensif, semi-intensif, maupun ekstensif,” kata Vitri.

Pengembangan protokol tersebut diterapkan pada berbagai jenis ternak, mulai dari ternak besar dan kecil, ternak kerja maupun olahraga, hingga hewan kesayangan. Selain itu, pengukuran kesejahteraan ternak juga dilakukan pada Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) sebagai bagian dari upaya peningkatan standar kesejahteraan hewan di Indonesia.

Selain fokus pada riset dan pengembangan teknologi, Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan Fapet UGM juga menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik lapangan. Hal ini diwujudkan melalui pengembangan keterampilan berkuda, ekuitasi, dan kemampuan menunggang kuda bagi mahasiswa.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Mata Kuliah Industri Ternak Kerja dan Olahraga yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa terkait horse and stable management, mulai dari pengelolaan kandang dan perawatan kuda hingga teknik dasar menunggang kuda (basic horseback riding).

Penulis: Satria

Foto: Tim Media Center

 

 

 

Peneliti Fapet UGM Kembangkan Mikroorganisme Lokal dari Limbah Rumen untuk Pengolahan Limbah Ternak

KNOWLEDGE TRANSLATION Wednesday, 3 December 2025

Tim peneliti bersama mahasiswa S1 dan S2 dari Laboratorium Teknologi Kulit, Hasil Ikutan dan Limbah Peternakan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM mengembangkan produk Mikroorganisme Lokal (MOL) probiotik berbahan dasar limbah cairan rumen dari Rumah Potong Hewan (RPH). Inovasi ini dipamerkan dalam program Fapet Menyapa sebagai bentuk kontribusi Fapet UGM dalam menghadirkan solusi ramah lingkungan bagi sektor peternakan, Jumat (28/11).

Menurut Kepala Laboratorium Teknologi Kulit, Hasil Ikutan dan Limbah Peternakan, Dr. Ir. Mohammad Zainal Abidin, S.Pt., M.Biotech., IPM., penelitian yang dilakukan ini berangkat dari fakta bahwa limbah rumen masih mengandung bakteri baik atau probiotik yang melimpah, namun selama ini belum dimanfaatkan optimal. Dengan proses fermentasi selama empat minggu menggunakan campuran molases sebagai sumber karbon (C) dan cairan ampas tahu sebagai sumber nitrogen (N), tim peneliti berhasil mengisolasi dan mengembangbiakkan kultur probiotik tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa MOL probiotik yang dikembangkan mampu bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan. Produk ini dapat tumbuh pada medium ammonium sulfat 5%, berbagai tingkat pH (4, 7, 9), dan suhu berbeda (20–40°C). MOL juga menunjukkan aktivitas proteolitik serta tidak ditemukan pertumbuhan bakteri patogen (coliform), sehingga dinilai aman dan efektif sebagai agen biologi.

Aplikasi MOL pada limbah ekskreta ayam layer menghasilkan penurunan kadar amonia mencapai 4.165,32 ppm, membuktikan potensi besar MOL untuk pengolahan limbah peternakan secara berkelanjutan.

“Pemanfaatan limbah rumen sebagai sumber probiotik merupakan terobosan yang sangat potensial. Produk MOL ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu membantu peternak dalam mengurangi bau dan kandungan amonia pada limbah,” ujarnya.

Peneliti lainnya, Ir. Viagian Pastawan, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPP, menambahkan inovasi berbasis bioteknologi seperti ini menjadi bagian dari komitmen Fapet UGM dalam mendorong praktik peternakan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

“Kami berharap hasil penelitian ini bisa terus dikembangkan hingga siap diterapkan secara luas di masyarakat, sehingga memberi manfaat nyata bagi pengelolaan limbah ternak di Indonesia,” tambah Viagian.

Dengan hasil penelitian yang menjanjikan, MOL probiotik dari limbah rumen ini berpeluang menjadi bioaktivator unggulan untuk mendukung pengelolaan limbah ternak secara efisien, murah, dan ramah lingkungan.

Peneliti lain yang hadir dalam acara Fapet Menyapa, yakni Dr. Novita Kurniawati, S.Pt. M.App.Sc. dan Haryanti, S.E.

Penulis: Satria

Foto: Margiyono-Satria

Fapet UGM Dorong Hilirisasi Riset Melalui Inovasi Produk Susu dan Pakan

KNOWLEDGE TRANSLATION Thursday, 6 November 2025

Laboratorium Ilmu Ternak Perah dan Industri Persusuan (ITPIP), Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, tampil sebagai pengisi acara Fapet Menyapa dengan memamerkan berbagai inovasi riset dan produk unggulan di bidang industri persusuan, Jumat (31/10). Kegiatan ini menjadi ajang berbagi informasi tentang hasil penelitian, pengabdian, dan layanan laboratorium kepada sivitas akademika serta masyarakat luas.

Prof. Ir. Yustina Yuni Suranindyah, MS., Ph.D., IPM., selaku Kepala Laboratorium ITPIP, menjelaskan bahwa laboratorium yang dipimpinnya memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu dan industri peternakan nasional, khususnya terkait peningkatan produksi dan kualitas susu.

“Kami berkomitmen untuk menjadikan Laboratorium ITPIP sebagai pusat riset unggulan yang tidak hanya menghasilkan inovasi pakan dan produk susu, tetapi juga mendukung industri persusuan nasional melalui riset aplikatif dan layanan pengujian terakreditasi,” ujar Prof. Yuni.

Laboratorium ITPIP menampilkan sejumlah produk hasil penelitian, antara lain Konsentrat Sapi Perah Laktasi “SENSASI”, Pelet Rumen Undegradable Protein (RUPellet), RUPSel (Pelet Protein Terproteksi dan Selenium), dan RUPLES (Pelet Protein-Lemak Terproteksi dan Selenium). Produk-produk ini telah mendapatkan paten dan terbukti mampu meningkatkan produksi susu dan imunitas ternak perah, dengan pemberian sebanyak 60 gram UDP pelet/liter produksi susu.

Selain itu, laboratorium juga meneliti potensi tanaman pakan sebagai galaktogogum alami, yaitu senyawa bioaktif dari tanaman yang dapat merangsang dan mempertahankan produksi susu secara alami.

Tak hanya berfokus pada riset, Laboratorium ITPIP juga mengelola layanan pengujian terakreditasi KAN (ISO 17025) untuk analisis kualitas susu dan produk turunannya, termasuk uji proksimat, mineral, laktosa, dan parameter mutu lainnya.

Melalui kegiatan Fapet Menyapa, Laboratorium ITPIP menegaskan perannya sebagai motor penggerak inovasi di bidang nutrisi, pakan, dan industri persusuan, sejalan dengan semangat Fapet UGM dalam mendukung kedaulatan pangan nasional.

Selain Prof. Yuni, hadir anggota tim lain dari Laboratorium ITPIP, yaitu Prof. Dr. Ir. Budi Prasetyo Widyobroto, DESS., DEA., IPU, Dr. Ir. Sulvia Dwi Astuti, M.Sc., IPM, Nur Laili Ma’rufah, S.Pt., M.Sc., Ph.D., Ir. Rochijan, S.Pt., M.Sc., IPM dan Muhammad Rio Rafif, S.Pt. (Laboran).

Penulis: Satria
Foto: Margiyono

From Laboratory to Farm: Inovasi Nutrisi Pakan untuk Peternakan Berkelanjutan

KNOWLEDGE TRANSLATION Monday, 6 October 2025

Industri peternakan merupakan salah satu pilar penting dalam penyediaan pangan asal ternak terutama protein hewani yang sangat dibutuhkan masyarakat. Permintaan pangan asal ternak semakin meningkat sehingga memacu industri peternakan untuk berkembang lebih pesat. Namun demikian, perkembangan pesat industri ini juga membawa sejumlah tantangan. Permasalahan seperti ketergantungan impor bahan baku pakan, penggunaan antibiotik yang berlebihan, kontaminasi mikotoksin, hingga meningkatnya emisi gas rumah kaca (greenhouse gas) dan emisi amonia menjadi isu yang perlu diatasi dengan serius.

Hal ini mengemuka dalam diskusi Fapet Menyapa bersama Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Jumat (26/9). Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut Prof. Dr. Ir. Chusnul Hanim, M.Si., IPM, ASEAN. Eng (Kepala Laboratorium), Dr. Asih Kurniawati, S.Pt., M.Si., IPM, Muhlisin, S.Pt., M.Agri., Ph.D., IPP dan Dr. Ir. Muhsin Al Anas, S.Pt., IPP.

“Tekanan global terhadap keberlanjutan lingkungan semakin kuat. Dunia menuntut industri peternakan tidak hanya fokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada aspek efisiensi, kesejahteraan hewan, dan penurunan jejak karbon (carbon foot print). Jika tidak segera bertransformasi, peternakan dikhawatirkan menjadi salah satu penyumbang besar terhadap degradasi lingkungan dan krisis pangan di masa depan,”papar Hanim.

Untuk itulah, di sini peran riset dan inovasi perguruan tinggi menjadi sangat penting. Fapet UGM menghadirkan berbagai solusi inovasi dan teknologi berbasis sains, yang diharapkan dapat menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Inovasi yang ditampilkan bukan hanya sebatas penelitian di laboratorium, tetapi juga teknologi yang siap mendukung industri peternakan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemandirian bangsa dalam produksi pakan dan pangan asal ternak.

 

Inovasi Unggulan
Beberapa inovasi yang ditampilkan dalam Fapet Menyapa diantaranya Probiotik Lactobacillus plantarum BN21, Mineral Herbal untuk Unggas, Suplemen Pakan Pronisblok+, Toxin Binder untuk Penurunan Aflatoksin (senyawa beracun pada ternak), Pakan Unggas Rendah Protein, Suplemen Pakan Berbasis Minyak Maggot, dan Methane Chamber untuk Penelitian Gas Rumah Kaca.

Dr. Asih menambahkan untuk Probiotik Lactobacillus plantarum BN21 merupakan hasil isolasi dan pengembangan probiotik unggul yang mampu meningkatkan kesehatan usus ayam serta meningkatkan efisiensi pakan. Probiotik ini berfungsi menyeimbangkan mikrobiota usus, menurunkan risiko penyakit, sekaligus mendukung pengurangan penggunaan antibiotik.

Sementara untuk mineral herbal untuk unggas adalah formulasi mineral berbasis bahan herbal yang tidak hanya mencukupi kebutuhan nutrien mikro, tetapi juga memberikan manfaat imunomodulator. “Inovasi ini berperan dalam meningkatkan performa unggas dengan pendekatan alami dan ramah lingkungan,”kata Asih.

Muhlisin, Ph.D menjelaskan tentang suplemen pakan Pronisblok+. Pronisblok+ adalah suplemen praktis dalam bentuk blok untuk ternak ruminansia yang dirancang memudahkan peternak sekaligus memastikan asupan mineral selalu tercukupi. Teknologi ini mendukung kesehatan, reproduksi, dan produktivitas ternak dengan cara yang sederhana namun efektif.

Tim laboratorium Biokimia Nutrisi juga memaparkan tentang Toxin Binder untuk Penurunan Aflatoksin (senyawa beracun pada ternak) serta pakan unggas rendah protein.

Di sesi akhir Muhsin menjelaskan tentang suplemen pakan berbasis minyak maggot. Produk ini adalah turunan dari black soldier fly larvae (BSFL) yang berfungsi sebagai sumber energi, kaya asam lemak laurat, sekaligus memiliki efek imunostimulan.

“Inovasi ini memperkuat konsep circular economy dengan memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai tinggi untuk pakan,”kata Muhsin.

Sementara Methane Chamber merupakan instrumen riset canggih yang digunakan untuk mengukur emisi metana dari ternak, khususnya ruminansia. Teknologi ini menjadi fondasi penting dalam penelitian mitigasi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan, sehingga hasil penelitian dapat diarahkan pada solusi konkret bagi isu iklim global.

Sumber: Tim Lab Biokimia Nutrisi
Editor: Satria
Foto: Margiyono

Inovasi Unggul Laboratorium Ilmu dan Teknologi Daging Fakultas Peternakan UGM

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 23 September 2025

Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dengan meluncurkan inovasi terbaru, salah satunya dari Laboratorium Ilmu dan Teknologi Daging (Lab ITD). Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk olahan daging di Indonesia.

Salah satu inovasi yang dikembangkan Lab ITD yaitu produk sosis sehat. Sosis dengan bahan dasar daging ayam ini adalah salah satu produk olahan daging ayam yang merupakan makanan siap saji. Pada umumnya, sosis dibuat dengan menggunakan pengawet sintesis dan bahan kimia seperti nitrat dan nitrit yang membahayakan tubuh apabila dikonsumsi secara berkala, bahkan dapat menyebabkan kanker.

“Melalui inovasi sosis sehat, Fakultas Peternakan menawarkan sosis tanpa bahan pengawet dan pewarna sintetis, namun menggunakan bahan alami yaitu angkak. Angkak merupakan beras yang difermentasi menggunakan jamur Monascus sp. untuk menghasilkan pigmen warna yang tidak beracun, juga merupakan antioksidan yang dapat menambah masa simpan suatu produk olahan daging,”papar Kepala Lab ITD, Dr. Rio Olympias Sujarwanta, S.Pt., M.Sc., saat acara Fapet Menyapa, Senin (14/10).

Dalam acara ini Rio didampingi tim Lab ITD lainnya, yaitu Dr. Ir. Endy Triyannanto, S.Pt., M.Eng., IPM., ASEAN. Eng, Ir. Rusman, MP., Ph.D., Ir. Edi Suryanto, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dan Christina Yuni Admantin, S.T.P., M.Sc.

Selain keunggulan tersebut, sosis sehat juga diolah menggunakan daging ayam segar pilihan, yaitu bagian dada dan tidak menggunakan bagian sayap sehingga sosis ini memiliki kadar lemak yang lebih rendah. Sosis sehat juga diproduksi tanpa tambahan Monosodium Glutamat atau yang sering dikenal sebagai MSG, sehingga aman untuk dikonsumsi anak-anak.

Laboratorium ITD juga telah mengembangkan mesin pemanggang sate, empal gentong dengan kemasan retort, ayam ungkep, abon myosin. Adapun produk Ayam Ungkep memiliki keunggulan, menggunakan ayam kampung tanpa obat-obatan kimia, tanpa vaksin, memakai herbal atau rempah dan daun (daun pepaya, kelor, ginseng, kangkung dan bayam) dicampurkan dalam pakan, Ayam Ungkep juga menggunakan bumbu rempah tanpa vetsin atau moto.

Kegiatan unggulan lain yaitu pelatihan JULEHA, yaitu Juru Sembelih Halal. Pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi yang mengedepankan prinsip syariah dalam setiap proses penyembelihan hewan ini menjadi komitmen Fakultas Peternakan UGM untuk menjaga kualitas daging yang halal dan memenuhi standar.

“Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi daging halal, Juleha telah menerima banyak permintaan dari berbagai kalangan, termasuk restoran dan pasar tradisional. Lab ITD berharap dapat terus mendidik masyarakat tentang praktik penyembelihan yang sesuai syariah dan pentingnya memilih produk halal,”imbuh Rusman.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta, Fakultas Peternakan UGM berkomitmen untuk terus melakukan riset dan pengembangan demi menciptakan solusi yang berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

 

Sumber: Tim Lab ITD Fapet

Editor: Satria

Foto: Margiyono

Peneliti Fapet UGM Kembangkan IoT dan Digital Recording Ternak Unggas

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 23 September 2025

Industri perunggasan di Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan konsumen akan produk unggas. Namun, industri ini menghadapi tantangan dalam memenuhi permintaan yang terus meningkat dengan jumlah (kuantitas) dan kualitas produk yang semakin meningkat.

Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah dan para pemangku kepentingan industri telah menyadari potensi teknologi peternakan presisi (precision livestock farming/PLF) untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan produksi unggas. Dalam konteks industri perunggasan di Indonesia, peternakan presisi dapat memainkan peran penting dalam mengatasi berbagai masalah.

“Di sinilah penerapan teknologi peternakan yang presisi, seperti sistem berbasis cloud diantaranya adalah IoT, digital recording, pemanfaatan pengolahan data kompleks yang terpusat, dapat memainkan peran penting dalam transisi ini,”papar peneliti muda dari Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Ternak, Galuh Adi Insani, S.Pt., M.Sc., saat acara Fapet Menyapa, Kamis (26/9).

Galuh menuturkan teknologi ini dapat membantu dalam pengumpulan data, analisis, dan pengambilan keputusan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas dan kesehatan hewan. Misalnya, alat persepsi cerdas dapat digunakan untuk identifikasi ternak, penilaian kondisi tubuh, dan estimasi bobot hidup, yang dapat meningkatkan manajemen dan produktivitas peternakan. Teknologi ini dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kesehatan hewan, yang berujung pada keuntungan ekonomi bagi peternak.

“Permasalahan peternak itu kan berbagai macam ya, ada kondisi lingkungan, suhu, requirement ayam broiler yang cenderung lebih rentan terjadinya stres, dll. Dengan begitu, pada pemeliharaan juga harus menyesuaikan kondisi lingkungan dengan melibatkan beberapa peralatan yang canggih dan automatisasi mesin yang terprogram, agar unggas dapat nyaman dan mampu keluar dalam kondisi yang menyebabkan ternak menjadi stres,”urainya.

Integrasi teknologi Internet of Things (IoT) yang diusulkan Galuh tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga berpotensi membuka peluang baru bagi petani kecil untuk bersaing di pasar global. Bahkan, kita bisa setiap saat memantau pertumbuhan setiap ayam ini secara real time menggunakan kamera dan kecerdasan buatan. “Adanya pencatatan dan proses pengambilan data secara real-time melalui IoT tersebut akan didapatkan hasil pembacaan data yang dapat dilakukan integrasi dengan catatan produksi dan catatan lain yang saling berkorelasi,”terang Galuh.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyono

Sertifikasi dan Labeling Tingkatkan Skala Bisnis Produk Peternakan

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 23 September 2025

Produk peternakan seperti susu, daging, telur, dan olahannya kini semakin diminati oleh konsumen, baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini tercermin dari meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, konsumsi ayam pada tahun 2020 tercatat sebesar 11,6 kg/kapita, dan meningkat menjadi 13,5 kg/kapita pada tahun 2023.

Namun, meningkatnya permintaan ini harus diimbangi dengan jaminan keamanan dan mutu produk yang hanya dapat dipastikan melalui sistem sertifikasi yang terpercaya. Sertifikasi produk olahan peternakan menjadi tolok ukur penting untuk menjamin bahwa produk yang dikonsumsi masyarakat telah memenuhi standar keamanan pangan, higienitas, dan keberlanjutan proses produksi.

Langkah ini penting karena produk olahan peternakan merupakan bagian dari konsumsi harian masyarakat. Tanpa pengawasan yang baik dalam proses produksi dan kebersihan, risiko munculnya penyakit zoonosis atau gangguan kesehatan akibat kontaminasi mikroba sangat besar.

Hal ini mengemuka dalam acara Fapet Menyapa edisi Senin, 14 April 2025. Hadir sebagai narasumber para dosen dan peneliti dari Laboratorium Agrobisnis Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.

Menurut Prof. Dr. Ir. Tri Anggraeni Kusumastuti, S.P., M.P., IPM, sertifikasi produk bukan sekadar formalitas administratif bagi produsen. Lebih dari itu, sertifikasi mencerminkan komitmen terhadap standar mutu dan membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk ekspor. Produk yang telah tersertifikasi cenderung lebih dipercaya oleh mitra bisnis dan memiliki nilai tambah dalam rantai pasok.

“Produsen yang ingin memperluas pangsa pasar dapat mengurus sertifikasi produk sebagai syarat utama untuk masuk ke pasar tersebut,” ujar Prof. Tri Anggraeni.

Sertifikasi juga menjadi jaminan bagi konsumen bahwa produk yang mereka beli telah melalui proses pengawasan ketat, mulai dari bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi. Sebagai contoh, produk bersertifikat halal menunjukkan bahwa proses produksinya telah sesuai dengan syariah, sehingga kehalalannya dapat dipertanggungjawabkan.

Tak hanya sertifikasi, label produk juga memainkan peran penting dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk peternakan.

“Produk seperti daging olahan, susu pasteurisasi, yoghurt, atau telur asin sering kalah bersaing bukan karena kualitasnya yang rendah, tetapi karena kemasan yang seadanya dan ketiadaan label yang meyakinkan. Padahal, konsumen saat ini sangat peduli dengan detail produk,” kata Tian Jihadhan Wankar, Ph.D.

Senada dengan hal itu, Prof. Mujtahidah Anggriani menyatakan bahwa keberadaan produk peternakan yang tersertifikasi memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen sesuai preferensi masing-masing.

Tantangan Sertifikasi dan Labeling di Industri Olahan Peternakan
Meski manfaatnya sangat jelas, tingkat adopsi sertifikasi produk di sektor peternakan masih menghadapi berbagai tantangan. Beberapa di antaranya adalah rendahnya pemahaman pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tentang pentingnya sertifikasi, tingginya biaya proses sertifikasi, serta terbatasnya akses informasi dan pendampingan teknis.

Tak jarang, UMKM masih enggan mengurus sertifikasi karena dianggap rumit dan mahal. Sementara itu, pemahaman mengenai pentingnya label produk yang sesuai dengan ketentuan dan target pasar juga masih minim. Banyak produsen UMKM membuat label seadanya tanpa mempertimbangkan aspek estetika dan informasi yang dibutuhkan konsumen.

“Para pelaku usaha mikro di sektor pengolahan produk peternakan masih enggan mengurus sertifikasi karena kurangnya informasi dan pendampingan yang mereka terima. Di sinilah peran perguruan tinggi sangat penting untuk memberikan edukasi dan pendampingan,” jelas Prof. Suci Paramitasari.

Peran Fakultas Peternakan UGM
Fapet UGM secara aktif melakukan pendampingan terhadap UMKM produk peternakan, termasuk bagi pelaku usaha yang memasarkan produknya melalui Plaza Agro UGM yang berlokasi di lingkungan fakultas. Produk-produk tersebut meliputi susu pasteurisasi, yoghurt, keju, es krim, olahan daging, telur, dan aneka produk turunan lainnya.

Pendampingan yang diberikan meliputi pelatihan pengurusan sertifikasi produk dan strategi peningkatan skala usaha (scale-up). Selain itu, Fapet UGM juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan edukasi terkait sertifikasi halal, khususnya kepada pelaku usaha rumah potong hewan dan produsen olahan peternakan.
Upaya ini merupakan langkah nyata Fapet UGM dalam mendorong peningkatan daya saing produk peternakan Indonesia di pasar domestik maupun internasional.

Penulis: Satria
Foto: Margiyono

Fakultas Peternakan UGM Luncurkan Program Pembentukan Ayam Lokal Galur Baru Menuju Ketahanan Pangan Mandiri

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 23 September 2025

Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah membuat program inovatif dalam pembentukan ayam lokal galur baru. Inisiatif ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional secara mandiri.

Peneliti dari Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Ternak, Prof. Dyah Maharani, Ir., S.Pt., M.P., Ph.D., IPM, menuturkan program ini menargetkan pembentukan ayam lokal galur baru dengan berat 0,8 kg yang dapat dipanen dalam waktu kurang dari 70 hari, tidak mengeram, dan tahan terhadap penyakit.

“Untuk mencapai tujuan ini, Fapet UGM menggunakan metode persilangan dan seleksi, dengan mengawinkan tiga bangsa ayam dari Kalimantan dan Jawa. Ayam tetua atau donor yang dipilih memiliki karakteristik spesifik; male line unggul dalam sifat pertumbuhan, sementara female line dikenal dengan produksi telur yang baik dan ayam tersebut memiliki cita rasa khas ayam kampong,”papar Dyah dalam acara Fapet Menyapa, Kamis (26/9). Selain Dyah, hadir dalam acara tersebut peneliti lainnya, Galuh Adi Insani, S.Pt., M.Sc.

Hasil persilangan ketiga bangsa ayam tersebut, kata Dyah, diseleksi menggunakan metode “Independent Culling Level”, yang mengevaluasi beberapa sifat secara bersamaan dalam satu generasi. Kriteria seleksi ditentukan berdasarkan estimasi parameter genetik seperti heritabilitas untuk sifat tunggal dan repetabilitas untuk sifat yang berulang. Sifat-sifat yang menjadi kriteria seleksi meliputi bobot DOC, bobot pada umur starter, grower hingga 10 minggu, serta produksi telur dan sifat mengeram.

“Diharapkan, ayam lokal galur baru ini dapat dipanen lebih cepat, memberikan keuntungan bagi peternak dengan perputaran uang yang lebih pendek dan margin yang lebih tinggi,” ujar Dyah yang juga ketua tim pembentukan ayam galur baru dari Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Ternak, Fapet UGM tersebut.

Setelah mencapai generasi keempat, performa ayam diharapkan stabil dan siap untuk di-scale up produksinya bersama mitra industri Fapet UGM.

Inisiatif ini tidak bertujuan untuk menggantikan ayam broiler, melainkan untuk mensubstitusi produksi daging sebagai sumber protein alternatif bagi masyarakat yang berasal dari produk lokal Indonesia. Dengan demikian, pemenuhan target ketahanan pangan secara mandiri dapat segera tercapai, memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan kesejahteraan masyarakat.

“Dengan program ini, Fapet UGM berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengembangan sumber protein yang berkelanjutan dan berkualitas bagi masyarakat Indonesia,”tegasnya.

 

Sumber: Dyah M

Editor: Satria

Foto: Margiyono

Peternakan sebagai Motor Penguatan Kelembagaan Desa: Inisiatif Laboratorium Komunikasi dan Pembangunan Masyarakat Fapet UGM

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 23 September 2025

Usaha peternakan rakyat di pedesaan menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Melihat hal tersebut, Laboratorium Komunikasi dan Pembangunan Masyarakat Fakultas Peternakan UGM menginisiasi pendekatan pembangunan desa yang berpusat pada pengembangan potensi peternakan, sekaligus sebagai strategi untuk memperkuat kelembagaan lokal yang sudah ada di masyarakat.

Menurut Prof. Dr. Trisakti Haryadi, Ketua Tim Laboratorium, aktivitas pengembangan usaha peternakan menjadi pintu masuk yang efektif untuk menghidupkan kembali peran kelompok tani, koperasi, lembaga keuangan mikro, hingga BUMDes atau BUMKal.

“Basis kegiatan kami adalah pengembangan peternakan rakyat. Namun dalam prosesnya, kami sengaja melibatkan dan mendorong optimalisasi modal sosial masyarakat desa dan peran kelembagaan desa agar pengelolaan peternakan lebih terstruktur, berkelanjutan, dan memberi dampak luas pada masyarakat,” jelas Prof. Trisakti.

Dalam program pendampingan yang dijalankan, Laboratorium Komunikasi dan Pembangunan Masyarakat Fapet UGM tidak hanya memberikan dukungan teknis peternakan, tetapi juga memperkuat aspek komunikasi, organisasi, dan manajerial kelembagaan. Tujuannya adalah agar lembaga desa mampu mengelola, mengakses peluang, dan menjalin kemitraan dalam pengembangan usaha peternakan.

Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng dan Annisa’ Qurrotun A’yun, S.Pt., M.Sc. lebih banyak menjelaskan berbagai kegiatan telah dilakukan, mulai dari pelatihan pengelolaan unit usaha peternakan di bawah koperasi dan BUMDes, peningkatan kapasitas kelompok tani ternak, hingga pendampingan lembaga keuangan mikro untuk menyediakan layanan pembiayaan peternakan yang inklusif dan adaptif.

“Kita tidak sedang membentuk lembaga baru, tapi memaksimalkan yang sudah ada agar bisa berdaya melalui aktivitas ekonomi yang konkret—dalam hal ini peternakan,” tambah Prof. Budi.

Senada dengan itu, Dr. Ir. Siti Andarwati, S.Pt., M.P., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa 95% peternakan di tanah air adalah peternakan rakyat. Dengan demikian, ia sepakat peternakan akan lebih maksimal dalam menjalankan programnya jika dilakukan secara kolektif melalui kelompok atau lembaga.

Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D menilai lembaga desa, koperasi maupun BUMDes memiliki tujuan sama dalam mendorong perekonomian desa. Hanya saja yang perlu menjadi perhatian adalah komoditas apa yang nanti menjadi fokus lembaga tersebut.

“Misalnya BUMDes tapi justru bukan diisi produk atau usaha dari sektor pertanian atau peternakan maka tidak akan berkesinambungan. Berbeda misalnya mengelola komoditas susu yang itu terbukti lebih berkembang,”papar Romadhoni.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyono

Universitas Gadjah Mada

Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada

Jl. Fauna No. 3 Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Telp: (0274) 513363 | Fax: (0274) 521578 |

Email: fapet@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY