Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Kanal Pengetahuan Fakultas Peternakan
  • BERANDA
  • E-LEARNING
    • MENARA ILMU
    • KULIAH TERBUKA
    • KULIAH TAMU
    • COMMUNITY OF PRACTICE
    • COMMUNITY OF SERVICE
    • PROFIL DOSEN
  • RISET & PUBLIKASI
    • Knowledge Translation
    • PERTEMUAN ILMIAH
    • PENELITIAN
    • PUBLIKASI
  • TENTANG KANAL
  • Three Minute Thesis
  • Beranda
  • Pos oleh
Pos oleh :

muh.arifin

Ingin Sukses Beternak Kambing dan Domba Potong? Berikut Tips dari Pakar Fapet UGM

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 21 October 2025

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) kembali menggelar Kuliah Gratis Bagimu Petani Kami Mengabdi dengan topik “Beternak Kambing dan Domba Potong”, Jumat (17/10). Materi antara lain disampaikan oleh Prof. Dr. Panjono, Ph.D. dari Laboratorium Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan Fapet UGM.

Dalam paparannya, Panjono menjelaskan berbagai aspek penting dalam usaha ternak kambing dan domba, mulai dari pemilihan bibit, tatalaksana pemeliharaan, hingga strategi penggemukan dan pengendalian penyakit. Ia menegaskan bahwa keberhasilan beternak sangat dipengaruhi oleh perpaduan antara aspek ekonomi dan teknik.

“Kunci sukses beternak kambing atau domba terletak pada passion, perhitungan yang matang, kerja sama, dan doa,” ujar Panjono.

Menurutnya, usaha ternak kambing dan domba potong cukup menjanjikan karena modalnya relatif kecil dibandingkan ternak besar, sementara permintaan daging domba di pasar masih tinggi. Jenis yang banyak dibudidayakan antara lain Kambing Boer, Domba Priyangan, Dorper, dan Merino.

Panjono juga memaparkan bahwa pemilihan bibit unggul merupakan langkah awal yang penting. Bibit harus sehat, proporsional, dan sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Sementara itu, kandang yang ideal harus efektif dan efisien—menjamin kenyamanan ternak, sirkulasi udara baik, serta biaya pembangunan rendah.

Dalam hal reproduksi, kambing dan domba memiliki interval kelahiran sekitar 8 bulan dengan tingkat reproduksi minimal 3 ekor per tahun. Adapun produktivitas induk ideal mencapai 39 kg bobot badan per tahun.

Aspek pakan dan kesehatan juga menjadi perhatian utama. Panjono menjelaskan bahwa pakan menyumbang komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan, sehingga perlu diperhitungkan dengan cermat. Ia mendorong peternak untuk melakukan pencatatan (recording) dan identifikasi ternak secara teratur agar pengelolaan lebih efisien.

“Ternak harus diperlakukan dengan baik agar bisa mengekspresikan tingkah lakunya secara normal. Kesejahteraan ternak menentukan performa produksinya,” tambahnya.

Sebagai penutup, Panjono menekankan pentingnya penanganan limbah dengan memisahkan feses dan urin untuk diolah menjadi pupuk padat maupun cair. Langkah ini tak hanya menjaga kebersihan kandang, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi peternak.

Kegiatan kuliah gratis ini menjadi bagian dari komitmen Fapet UGM untuk mendampingi petani dan peternak di lapangan melalui edukasi yang aplikatif dan berkelanjutan.

Penulis: Satria

Peneliti Fapet UGM Kembangkan Bungkil Inti Sawit Sebagai Pakan Ternak

KNOWLEDGE TRANSLATION Saturday, 25 January 2025

Bungkil inti sawit merupakan limbah dari pembuatan minyak inti sawit. Di Indonesia produksinya cukup tinggi termasuk kandungan protein kasar di dalamnya yang mencapai 14%-19% sehingga potensial dijadikan sebagai pakan ternak.

Hal ini disampaikan oleh peneliti dari Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (IMT) Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA., IPU., ASEAN Eng., dalam acara Fapet Menyapa bersama Forum Wartawan Kampus Gadjah Mada (FORTAKGAMA), Jumat (24/1). Fapet Menyapa mengangkat tema Feed Additive pada Pakan Ternak.

“Dengan produksi pakan tahunan di Indonesia sebanyak kurang lebih 20 juta ton, proporsi optimal penggunaan bungkil inti sawit pada formulasi pakan ayam broiler adalah sebanyak 10% dengan koreksi asam amino esensial dan suplementasi enzim, ada potensi penggunaan bungkil inti sawit sebagai pakan ayam broiler sekitar 2 juta ton,”kata Zuprizal.

Ia memberikan gambaran dalam pemanfaatan formulasi pakan ayam broiler sebanyak 10% maka bungkil sawit ini berpotensi untuk mengurangi penggunaan jagung sekitar 9% dan bungkil kedelai sekitar 3%.

“Jika dimanfaatkan akan ada penghematan apalagi kita tahu bungkil kedelai saat ini masih impor,”imbuhnya.

Sementara terkait kandungan serat kasar pada bungkil inti sawit khususnya manan yang tinggi perlu disuplementasi enzim dari luar berupa enzim mananase, NSPase, dan protease untuk meningkatkan kecernaan nutrien yang berakibat pada peningkatan produktivitas, kualitas karkas, dan kesehatan saluran cerna dari ayam broiler.

Dalam kesempatan itu tim Lab IMT juga memaparkan beberapa contoh hasil penelitian feed additive (imbuhan pakan) dengan teknologi nano partikel untuk ayam broiler, seperti nano teknologi ekstrak kunyit, nano teknologi ekstrak kapulaga, nano emulsion ekstrak minyak atsiri serai dan ekstrak daun sirsak.

Selain Prof. Zuprizal, Tim Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fapet UGM yang hadir dalam Fapet Menyapa yaitu Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA., Dr. Aji Praba Baskara, Nanung Danar Dono, Ph.D., Dr. Insani Hubi Zulfa dan Dr. Aeni Nur Latifah.

Penulis: Satria
Foto: Margiyono

Tingkatkan Reproduksi, Fapet UGM Kembangkan Embrio Berkualitas pada Hewan Ternak Melalui Metode IVF

KNOWLEDGE TRANSLATION Tuesday, 19 November 2024

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM melalui Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak melakukan terobosan pemanfaatan Fertilisasi In Vitro (IVF) ternak dari beberapa Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Yogyakarta. Kepala Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak Fapet UGM, Prof. Ir. Diah Tri Widayati, M.P., Ph.D.,IPM., mengatakan teknologi reproduksi fertilisasi in vitro merupakan inovasi generasi ketiga dalam teknologi reproduksi yang menawarkan solusi strategis untuk mempercepat peningkatan populasi ternak, perbaikan genetik ternak dan mendukung ketahanan pangan nasional.

“Teknologi reproduksi fertilisasi in vitro (IVF) pada ternak kini semakin diandalkan untuk meningkatkan efisiensi produksi embrio berkualitas tinggi,”kata Diah pada acara Fapet Menyapa, Selasa (19/11). Fapet Menyapa merupakan forum  unggulan untuk menyajikan berbagai capaian, hasil riset dan Tridarma dari Fapet UGM melalui media massa.

Tim Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi lain yang hadir dalam acara tersebut, yaitu Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng, Ir. Riyan Nugroho Aji, S.Pt., M.Sc., IPP. dan Dr. Kurniawan Dwi Prihantoko, S.Pt.

Menurut Diah teknologi IVF memungkinkan pemanfaatan oosit (sel telur) dari ovarium yang diperoleh di rumah potong hewan. Biasanya, ovarium dianggap sebagai limbah atau hasil samping, tetapi melalui teknologi IVF, oosit ini dapat digunakan untuk memproduksi embrio.

Fapet UGM, kata Diah, merupakan salah satu pelopor dalam pengembangan teknologi IVF di Indonesia. Melalui kerja sama dengan lembaga penelitian pemerintah seperti Balai Embrio Ternak Cipelang dan pelatihan bagi peneliti, Fapet UGM telah  mengoptimalkan teknik IVF, mulai dengan pengumpulan oosit, pematangan oosit in vitro (IVM), fertilisasi in vitro serta peningkatan media kultur embrio.

“Riset kami berfokus pada spesies ternak lokal seperti sapi potong, sapi perah, dan kambing serta domba, dengan penggunaan oosit dari ovarium rumah potong hewan untuk meningkatkan efisiensi produksi,”kata Diah.

Peneliti lain dari Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Ternak Fapet UGM, Prof. Dr. Ir. Sigit Bintara, M.Si., IPU., ASEAN Eng., menambahkan selain dapat memanfaatkan ovarium dari rumah potong hewan (RPH), teknologi IVF juga mampu untuk meningkatkan produksi dan kualitas ternak, terutama jika dikombinasikan dengan penggunaan sperma dari ternak unggul.

Diah menjelaskan kembali dalam jangka panjang IVF akan berdampak pada ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor ternak. Teknologi ini juga telah banyak digunakan di Amerika Utara, Amerika Selatan dan Eropa, serta menjadi tren global dengan penggunaan embrio produksi in vitro (IVP) yang kini melampaui embrio yang diproduksi secara alami (in vivo) melalui multiple ovulation and embryo transfer (moet).

“Dengan dukungan kebijakan yang tepat, IVF dapat mempercepat perbaikan genetik ternak lokal, memperkuat ketahanan pangan nasional dengan menyediakan pasokan protein hewani yang stabil dan berkualitas tinggi, serta membuka peluang ekspor embrio unggul. Adopsi luas teknologi ini berpotensi menjadikannya salah satu pilar utama dalam memperkuat sektor peternakan dan pangan Indonesia di kancah global,”urai Diah.

 

Penulis: Satria

Foto: Tim media- Tim laboratorium

Dorong Publikasi Riset, Fakultas Peternakan UGM Launching Fapet Menyapa

KNOWLEDGE TRANSLATION Friday, 23 August 2024

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM terus mendorong agar hasil-hasil riset dan tridarma lainnya terpublikasi secara masif kepada publik. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu dengan menggelar forum bersama wartawan dengan tajuk Fapet Menyapa. Acara Fapet Menyapa dilaunching pada Jumat (23/8) di Hall ASLC Fapet UGM.

Dekan Fapet UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengatakan forum ini merupakan acara unggulan untuk menyajikan berbagai capaian, hasil riset dan tridarma dari Fapet UGM melalui media massa. Secara bergiliran nantinya sebanyak 14 laboratorium di Fapet akan menyampaikan produk-produk unggulannya.

“Hasil-hasil tridarma dari Fapet UGM sangat banyak. Salah satu cara untuk menginformasikannya kepada khalayak luas tentu dengan menggandeng teman-teman wartawan,”kata Budi.

Fapet Menyapa akan rutin diadakan sebulan sekali. Kegiatan diskusi rutin dengan menggandeng media massa di tingkat fakultas sejauh ini baru ada di Fapet UGM. Budi berharap forum ini sekaligus sebagai wahana untuk mengurangi dampak berita hoaks yang masih terjadi di masyarakat.

Untuk edisi perdana Fapet Menyapa mengangkat tema Rahasia Penggemukan Ternak dengan Teknologi Pakan bersama tim Laboratorium Teknologi Makanan Ternak, yaitu Moh Sofi’ul Anam, S.Pt., M.Sc, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA, DEA., IPU., ASEAN Eng. dan Ir. Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M. Anim.St., Ph.D., ASEAN Eng.

“Terima kasih atas kehadiran dan partisipasi teman-teman wartawan. Harapannya media relations semakin kuat dan berbagai hasil riset dari Fapet bisa terdistribusikan kepada masyarakat,”katanya.

Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ribut Raharjo, menyambut baik Fapet Menyapa. Ribut yakin Fapet UGM memiliki banyak hasil riset yang bermanfaat bagi masyarakat. “Saya rasa ini terobosan dari Fapet UGM dengan melibatkan wartawan. Kami siap untuk berbagi informasi kepada masyarakat atas capaian dan riset yang dihasilkan,”kata Ribut.

Fapet Menyapa edisi perdana melibatkan sekitar 20 media massa baik cetak maupun online, seperti Tribun, Harian Jogja, Radar Jogja, Kompas, Suara Merdeka, Republika, RRI, Detik.com, TVRI, LKBN Antara, Tempo, Beritasatu.com dan Metro TV.

 

Penulis: Satria

Foto: Margiyon

Universitas Gadjah Mada

Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada

Jl. Fauna No. 3 Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Telp: (0274) 513363 | Fax: (0274) 521578 |

Email: fapet@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY